Izyanayuni’s Blog











{Januari 10, 2009}   kawasan teknologi pendidikan
  • Kawasan Desain

Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar. tujuannya adalah untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro seperti pelajaran dan modul. kawasan ini meliputi desain sistem pembeljaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar.


  • kawasan Pengembangan
proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. meliputi teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu

  • kawasan Pemanfaatan
aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. meliputi pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan serta kebijakan dan regulasi

  • kawasan Pengelolaan
pengendalian teknologi pembelajaran melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan supervisi. meliputi pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi

  • kawasan Penilaian


proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar. meliputi analisis masalah, pengukuran acuan patokan serta penilaian formatif dan sumatif



{Januari 10, 2009}   kompetensi perekayasa pembelajaran

Kompetensi yang harus dimiliki seorang perekayasa pembelajaran, yaitu mempu mengembangkan inovasi-inovasi, sumber-sumber dan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran. mengaplikasikan potensi dan ilmu yang dimiliki untuk pengembangan pembelajaran. Menguasai konsep-konsep dan ilmu tentang perekayasa pembelajaran.

1. Memahami landasan teori, konsep, research serta aplikasi teknologi pendidikan.
2. Merancang pola instructional
3. Memproduksi media Pemblelajaran
4.Mengevaluasi program desain pembelajaran
5. Mengelola media dan sarana pembelajaran
6. Memanfaatkan sarana dan teknik instructional
7. Menyebarkan informasi produk pendidikan
8. mempu mengelola sumber belajar



Masalah pendidikan di indonesia, secara umum mencakup SDM, Sarana dan Prasarana, Guru Profesional, Manajemen Pendidikan, dan masalah kurikulum serta kualitas pembelajaran.

1.Adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kiata seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain.
Nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.

2. Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yg sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah.
Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai.
Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang tidak membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh.
Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi kecil harapan pendidikan bisa lebih maju/baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yg berkualitas mesti bermodal/berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.


3. Negara belum mampu melaksanakan amanat UUD yaitu 20% APBN untuk pendidikan.
-sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung
-keprofesionalan guru yang rendah
-kesejahteraan guru yang rendah (terkait dengan keprofesionalan)
-pendidikan dijadikan komoditas politik dalam pilkada-pilkada ,dengan kampanye endidikan gratis
-belum meratanya pendidikan yang layak bagi seluruh daerah diIndonesia
-belum sesuainya pendidikan dengan karakter daearah-daerah dan karakter Indonesia

4. Orientasi ijazah dan gelar
Salah satu kerusakan dimulai dari masyarakat sekitar kita, yang menanamkan
bahwa gelar adalah hal yang sangat dihormati, sambil melupakan kualitas
intelektual yang dimiliki seseorang. Hal ini diperkuat oleh para pemilik
gelar yang hobi menonjol-nonjolkan gelarnya.

5. Tidak ada penelitian dan budaya penelitian
Budaya penelitian adalah budaya yang sangat vital dan harus dikembangkan
sejak pendidikan dasar. Pengembangannya terkait dengan adanya aktifitas
guru/dosen untuk melakukan penelitian, serta adanya sistem yang kondusif
untuk melakukan penelitian. Saat ini keduanya tidak ada. Penelitian di
perguruan tinggi lebih merupakan sarana kenaikan golongan bagi dosen.
Apalagi di PT teknik.

6. Kurikulum nasional dan metode pengajaran
Penegmbangan kurikulum nasional selama ini sangat kacau. Perubahan kurikulum
hingga saat ini lebih mencerminkan selera daripada adanya suatu pengembangan
yang baik.

7. Buruknya standarisasi lembaga pendidikan
Keberadaan lembaga pendididkan penjual gelar sangat merusak dunia pendidikan
di Indonesia. Lembaga pendidikan tidak mengalami proses standarisasi yang
baik sehingga tidak ada jaminan kualitas lembaga pendidikan di Indonesia.

8. Diskriminasi, KKN, dan kronisme
Diskriminasi ras, agama, dan etnis sangat terasa dalam level yang lebih
tinggi. Dosen-dosen minoritas mendapat perlakuan berbeda, dan mengalami
pembatasan posisi. Sebagai akibatnya iklim intelektual hilang sama sekali.

9. Perusakan mental
Hampir seluruh PT dan akademik bertanggung jawab atas perusakan mental
generasi muda. Mulai dari pencurian hak cipta, plagiat, pemalsuan tanda
tangan, korupsi dana, dan berbagai praktek rusak dipelajari dalam dunia
pendidikan. Bukan hanya sipil, tetapi juga militer. Pemerasan mulai
dipelajari di akademi kepolisian, serta tindak kekerasan dan penindasan
mulai dipelajari di akademi militer.

10. Faktor ekonomi
Suatu hal yang sulit bahwa perekonomian yang buruk sangat menghambat
perkembangan dan perbaikan dunia pendidikan di Indonesia. Gaji guru yang
rendah sulit diatasi secara nasional. Otonomi daerah kemungkinan akan
membawa perbaikan atas masalah gaji guru ini.

11. Birokrasi departemen pendidikan
Birokrasi adalah penyakit nasional. Mental penyeragaman dan mental feodalis
mengakibatkan departemen pendidikan lebih banyak berfungsi sebagai
penghambat pengembangan dunia pendidikan. Ini harus diubah. Berbagai
penyeragaman harus dihapuskan, dan sebagian lagi harus diserahkan pada
pemerintah daerah. Departement pendidikan pusat seharusnya hanya mengurusi
garis besar-nya saja.

12. Faktor ketidak berdayaan hukum
Murid diajarkan tentang hukum, sementara mereka melihat hukum dilanggar
dimana-mana. Tidak ada konsistensi antara pengajaran dengan kenyataan.
Praktisi pendidikan yang melakukan pelanggaran hukum tidak mendapat sanksi,
bahkan tidak diusut sama sekali.
Lembaga-lembaga penjual gelar beroperasi tanpa hambatan. Mungkin karena
pelanggannya adalah praktisi hukum.
Hak cipta tidak di hargai di negeri ini. Akibatnya, penelitian dan
penciptaan karya-pun tidak dihargai.

13. Faktor pemerataan
Orang-orang di pedalaman Irian dan Kalimantan tidak memperoleh kesempatan
pendidikan yang sama dengan kita. Pemerintah menghindar dari kewajibannya
membuka daerah-daerah terpencil, namun juga menutup upaya organisasi lain.
Pemerintah seharusnya membuka dan tidak menghalang-halangi pekerjaan LSM-LSM
untuk membuka daerah-daerah terpencil di Irian dan Kalimantan, sekalipun LSM
tersebut adalah Misi Penginjilan dari luar negeri. Selama ini birokrasi
pemerintah secara efektif menghalangi upaya pembukaan daerah-daerah
terpencil tersebut yang berasal dari misi LSM Kristen.
Kampus-kampus di Indonesia Timur tidak memperoleh alokasi yang sama dengan
kampus-kampus di bagian barat. Bantuan yang besar lebih banyak dihabiskan
untuk pengembangan kampus di Jawa.

14. Faktor sosial budaya
Budaya yang kita serap dari masyarakan Barat lebih banyak budaya gelar
intelektualnya, bukan budaya intelektual itu sendiri. Saya heran mengapa
rektor-rektor kita harus menggunakan pakaian lucu saat melakukan wisuda,
demikian pula para wisudawan kita. Pakaian dari budaya yang sudah hilang
kita gunakan untuk menyerap budaya gelar intelektual itu. Tetapi budaya
intelektual, penelitian, pemikiran logis dan dialog rasional belum kita
miliki.

15. mengapa pendidikan dapat terus lebih mahal tetapi kelihatannya tidak lebih bermutu. Memang banyak orang merasa bahwa mereka mengerti masalah-masalahnya dan menyebutkan solusinya, misalnya: Sekolah dan kampus harus menurunkan biayanya – Bagaimana mungkin? Sebetulnya pendidikan di negara ini sudah relatif murah, apa lagi dibanding negara lain, dan kita perlu meningkatkan mutu lebih dari yang sekarang.



{Januari 10, 2009}   Definisi Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba, 1977) Teknologi pendidikan bersifat abstrak. Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan,melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia. (AECT, 1977)

Teknologi Pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengealuasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam betuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

Rumusan tahun 1977
Tahun 1977 AECT membedakan dua rumusan teknologi pendidikan dengan
teknologi instruksional. Berikut uraiannya.
(1). teknologi pendidikan
Definisi teknologi pendidikan berbunyi, “….. proses yang rumit dan
terpadu, melibatkan orang, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi
untuk menganalisis dan mengolah masalah, kemudian menggunakan,
mengevaluasi, dan mengelola seluruh upaya pemecahan masalahnya yang
termasuk dalam seluruh aspek belajar (manusia)”.
(2). teknologi instruksional
Teknologi instruksional ialah “satu bagian dari teknologi pendidikan –
dengan asumsi sebagai akibat dari konsep instruksional sebagai bagian
pendidikan – bersifat rumit dan terpadu, melibatkan orang, prosedur,
gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis dan mengolah
masalah, kemudian menerapkan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan
masalah pada situasi dimana proses belajar terarah dan terpantau”. Rumusah
tersebut mengandalkan teknologi pendidikan sebagai suatu proses –
kegiatan berkesinambungan, dan merinci kegiatan yang harus dilaksanakan
oleh para praktisinya.

Rumusan tahun 1994.
Setelah 17 tahun menerapkan konsep yang sama, akhirnya AECT melalui 2
anggotanya meluncurkan definisi terbaru. Rumusan tersebut berbunyi,
“teknologi instruksional merupakan teori dan terapan atas rancangan,
pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi atas proses dan
sumber-sumber belajar”.

Menurut Barbara B. Seels dan Rita C Ritchey (1994), definisi teknologi pembelajaran adalah sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian proses dan sumber untuk belajar.
sehingga terdapat lima domain teknologi pembelajaran yaitu kawasan desain, kawasan pengembangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan, dan kawasan penilaian.

Definisi AECT mengenai teknologi pendidikan pada tahun 2004, yaitu

Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dengan dengan cara menciptakan, memanfaatkan, mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat, jelas, tujuan utamanya untuk memfasilitasi pembelajaran agar efektif, efisien, menarik dan meningkatkan kinerja.

Definisi AECT tahun 2008

Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dengan dengan cara menciptakan, memanfaatkan, mengelola proses dan sumber-sumber teknologi



et cetera